Segelas Kopi Pahit untuk Seorang Guru

Oleh: Sri Lestari, S.Pd.I., M.Pd.I. (Guru SDIT Luqman Al Hakim Sleman)

Menjadi guru bukanlah cita-cita masa kecilku, namun hobiku membaca buku, majalah, atau koran membuat rasa ingin tahuku tumbuh dengan subur. Apa lagi dimasa kecilku dulu, kira-kira saat aku Sekolah Dasar kelas 3 aku bisa membaca sebuah nama seseorang yang memiliki  banyak gelar hingga namanya menjadi sangat panjang sekali saking banyaknya gelar yang ia punya. Kuingat hingga kini betapa aku masih terkagum dengan nama orang itu, meskipun aku mungkin tertipu..ha..ha..ha. Kemudian saya mencari tahu bagaimana cara mendapatkan gelar sebanyak itu ya?

Hari pertamaku menjadi guru bukanlah dibangku sekolah, bukan juga dipesantren tetapi menjadi guru TPA…itu pun tidak perlu sekolah tinggi, tidak perlu melamar, tidak perlu ketrampilan….bekalnya cuma satu “ keinginan”. Guru yang hebat pasti memiliki cita –cita yang hebat pula… dalam artian tidak hanya sekedar bernilai materi tetapi lebih dari itu. Dampak ekspansi cepat program pendidikan dan meningkatnya kebutuhan SDM yang terdidik menjadikan guru menjadi  sebuah profesi yang sangat strategis dan menjanjikan. Dinamika pendidikan mampu memberikan beragam reaksi positif bagi guru, terutama dengan meningkatnya status kesejahteraan guru baik negeri atau swasta. Realita di lapangan justru kesejahteraan guru swasta kadang lebih tinggi dibanding yang  guru negeri. Namun peningkatan status kesejahteraan guru ini tidak didapat dengan cuma-cuma, guru dituntut untuk lebih kreatif dan profesional.

Jam terbang guru….kayak pilot..guru pun dipengaruhi oleh banyaknya sedikitnya jam terbang. Gaya mengajar guru pun…beraneka ragam…implikasinya..respon anak didikpun juga beragam pula. Ketika seorang guru tampil didepan kelas dengan semangat…rata-rata anak didiknya pun akan terpapar energi positifnya..menjadi semangat..tetapi sebaliknya, ketika seorang guru tampil tanpa persiapan yang bagus, terkesan seadanya…..jangan harap anak didiknya bisa fokus dalam belajar, sesi pagi menentukan sesi-sesi selanjutnya pada hari itu.

Sesungguhnya orang tua dan guru adalah mitra yang baik karena memiliki tujuan yang sama yaitu ingin membantu seorang anak berhasil dalam belajar. Tapi seringkali orang tua menganggap guru itu seperti pegawainya…yang tugasnya memastikan semua kegiatan si anak dalam belajar lancar…dan baik-baik saja. Ketika ada sesuatu konflik yang tidak bisa di menej dengan baik maka akan sering timbul komplain dan tuntutan orang tua kepada guru. Jarang orang tua yang mampu menyadari kekurangannya dalam mendampingi anak – anak belajar, jarang mendengarkan anak cerita kegembiraan dan kegalauannya, jarang memberikan apresiasi atas kebaikan kecil yang mereka lakukan. Akhirnya yang terjadi guru sering mendapatkan kopi pahit dari wali murid dibanding segelas teh manis.

Guru itu harus pantas  digugu lan ditiru , itu syarat utama yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin menjadi guru, kalau tidak pantas  digugu lan ditiru jangan pernah bermimpi menjadi guru. Ini beda lagi dengan pengertian guru didalam UU Guru dan Dosen, di dalam UU ini lebih banyak menuntut guru memenuhi kualifikasi akademik dan administrasi.

Di era sekarang, sekolah-sekolah swasta justru banyak yang menitik beratkan pada kualifikasi kepribadian dan moral disamping kualifikasi akademik. Contoh, di Sekolah Islam Terpadu, syarat yang harus dipenuhi seorang guru  selain kualifikasi akademik adalah memiliki basis keagamaan yang baik, indikatornya adalah mampu membaca Al-Quran, Hafiz Quran, menutup aurat bagi yang putri, tidak merokok, tidak berpacaran bagi belum menikah, dan lain-lain.

Realita yang dihadapi dunia pendidikan sekarang adalah kebanyakan lembaga pendidikan menghasilkan output orang-orang yang cerdas secara kognitif. Jarang lembaga pendidikan yang mampu melahirkan generasi yang cerdas tetapi juga memiliki kesantunan dan kematangan baik pribadi dan sosial. Tampaknya Islam terpadu sedang berjuang mengupayakan hal ini melalui boarding school dan full day school-nya yang menjadi pro kontra di masyarakat. Sedangkan Islam Terpadu sudah menerapkan sistem ini jauh 20 tahun yang lalu.

Advertisements
This entry was posted in Guru. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s