Rumah, Masjid, dan Sekolah

Oleh: Sri Lestari, S.Pd.I., M.Pd.I. (Guru SDIT Luqman Al Hakim Sleman)

Sering kita bertanya dan membandingkan mengapa anak-anak sekarang sangat berbeda dengan anak –anak di zaman kecil kita dahulu. Meskipun relatif lebih susah, anak-anak pada zaman dahulu memiliki kematangan pribadi dan memiliki daya juang yang tinggi. Bisa jadi hal tersebut terjadi karena keadaan yang membentuk mereka. Sebaliknya, kondisi anak – anak sekarang yang serba instan  menyebabkan mereka mudah terlena.

Meskipun Rasulullah SAW pernah berpesan kepada kita, “ Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya”, bukan berarti kita tidak boleh mengenalkan dolanan, atau strategi belajar  jadul yang sudah tidak up to date lagi lho ya. Sesungguhnya, teori psikologi pendidikan kita sangat melarang membandingan anak dengan yang lain, termasuk dengan masa kecil orang tuannya karena memang sesungguhnya sangat lah berbeda jauh.

Dalam buku Tarbiyatul Aulad, ada tiga komponen yang harus saling terkait dan tidak bisa berdiri sendiri, tiga komponen tersebut  adalah rumah, masjid, dan sekolah. Tiga komponen tersebut efektif dalam pembentukan kepribadian, intelektual, rohani, dan fisiknya. Sebagaimana kita ketahui, rumah memiliki peranan pertama dan utama dalam mendidik anak dari segi fisik karena kesehatan fisik adalah salah satu hak anak yang wajib dipenuhi orang. Dalam Islam, masjid memiliki fungsi utama sebagai tempat pendidikan rohani, yaitu sholat berjamaah, membaca Al-Quran, dan rahmat Allah tidak pernah berhenti dan terputus dari masjid. Sekolah mempunyai fungsi utama sebagai tempat untuk mendidikan  intelektualitas anak. Ilmu pengetahuan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan kepribadian dan mengangkat derajat kemuliaan manusia dan memiliki keutamaan yang besar dalam pandangan Islam. Sinergi dari ketiga komponen tersebut diharapkan dapat menghasilkan anak yang sempurna kepribadiannya, baik rohani, jasmani, akal, dan mental. Pada saatnya mereka diharapkan mampu mengambil peranan di masyarakat untuk memajukan ummat dan memuliakan agamanya.

Akan tetapi, ada dua hal yang harus diperhatikan sebagai syarat untuk memaksimalkan hasil yang ingin kita raih. Pertama, tidak adanya dualisme atau perbedaan pengarahan antara di rumah dan di sekolah. Kedua, kerjasama terjalin harus bertujuan untuk mengadakan integritas (terpadu) dan keseimbangan dalam membentuk kepribadian anak yang islami.

Advertisements
This entry was posted in Guru. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s