Anak dan Figur Orang Tua

Oleh: Muhammad Irfan (Dosen Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Mahasiswa S3 Prodi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang)

Masa anak-anak merupakan masa penuh eksperimen karena mereka mempunyai rasa keingintahuan yang besar. Sejatinya mereka kreatif namun biasa disebut anak nakal. Mereka penuh ide, namun sering ditekan karena ide-idenya. Mereka penuh pertanyaan ‘mengapa’ yang seringkali tidak dapat dijawab oleh orang tua. Pada akhirnya, berbohong menjadi jalan yang mesti ditempuh. Alhasil, mereka tumbuh dan berkembang dengan penuh intervensi dari lingkungan, khususnya orang tua. Mereka tumbuh dengan iringan kebohongan-kebohongan yang diajarkan dari orang-orang terdekatnya. Saat mereka nangis karena ditinggal ayahnya bekerja atau ayahnya tidak pamitan sesuai dengan keperluannya, lalu ibunya menjanjikan sesuatu dan kadang tidak ditepati. Ketika pada akhirnya anak-anak menjadi seorang pembohong, pengingkar janji, maka orang tua perlu introspeksi diri.

Anak usia PAUD-SD, pada dasarnya mereka mengidolakan orang tuanya. Mereka selalu memperhatikan setiap perilaku dan ucapan bapak-ibunya. Sehingga, orang tua haruslah dapat menjadi contoh yang baik. Jika orang tua terbiasa bangun siang, wajarlah anaknya juga bangun siang. Jika orang tua gemar mengaji, tentu akan diikuti oleh anaknya. Orang tua haruslah dapat dicontoh, dapat dijadikan teladan yang baik bagi anak-anaknya. Ing ngarso sung tulodho. Harus bisa nuladhani anak-anaknya.

Tak bisa dipungkiri bahwa seorang bapak adalah leader di keluarga. Ia harus dapat menciptakan iklim yang sejuk, nyaman, damai di keluarga. Ia pun berkewajiban untuk mencukupi kebutuhan keseharian keluarganya. Saat sudah lelah badan dan mata sayu ingin terlelap, anak dengan antusias mengajak sang bapak untuk bermain bersama. Sudah seharusnya seorang bapak menemani bermain karena saat bermain itulah komunikasi dengan si anak akan terjalin baik. Bagaimana perasaan si anak jika ia menunggu sang bapak hingga malam hari, untuk dapat bermain bersama, tetapi si bapak enggan. Di sinilah implementasi ing madyo mangun karso.

Anak-anak pada usia PAUD-SD selalu punya project di setiap harinya. Entah dalam imajinasinya seperti apa, tiba-tiba ia mengambil perkakas dapur, gunting, tali, kayu, dan barang-barang yang lain. Yang membuat sang ibu mengerutkan dahi dan kadang melarang, seperti “eh, jangan nanti kotor”, “jangan, nanti dimarahi ayah lho”, dan sejenisnya. Larangan-larangan itu bisa jadi membuat ide-ide dan kreativitas anak menjadi tidak berkembang, mudah pesimis, daya juang rendah. Yang perlu dilakukan oleh orang tua sebaiknya adalah mendorong realisasi ide yang dimilki anak. Jika memang si anak berbuat yang membahayakan dirinya atau orang lain, atau mempergunakan alat-alat yang tidak sepantasnya digunakan, nasehati dengan terlebih dahulu memberi apresiasi. Konsep tut wuri handayani berlaku didalam permasalahan ini.

Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani merupakan trilogi kepemimpinan yang dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara. Ajaran tersebut dapat diimplementasikan untuk ngemong anak-anak kita  agar menjadi anak yang berperilaku baik, mempunyai ide-ide besar, kreatif, dan pantang menyerah. Jika orang tua dapat menerapkan trilogi tersebut, tentu turut membantu suksesnya program ‘revolusi mental’ yang dicanangkan Pak Presiden. Revolusi mental harus dimulai dari dalam keluarga. Karena keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak-anak. Pada bulan Ramadhan ini, merupakan momentum yang tepat untuk mendidik anak-anak kita agar mereka memiliki karakter yang tangguh, yang baik. Tentu dibarengi dengan orang tua yang selalu meng-update ilmunya.

Advertisements
This entry was posted in Pakar. Bookmark the permalink.

4 Responses to Anak dan Figur Orang Tua

  1. Fentin says:

    Luar biasa pak, ini bisa menjadikan kita intropeksi diri. Sudahkah kita menjadi orang tua yang sesuai harapan sang anak.

    Like

  2. irvahn says:

    Mungkin kita sebagai orang tua, ada baiknya membaca buku Tarbiyatul Aulad karya Nashih ulwan, bukunya Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan, dan cerita-cerira yang ada di Al qur’an. Sembari mendoakan untuk istri dan anak: Robbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrota’ayun waj ‘allilmuttaqina imama.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s