Semangat Disabilitas

Oleh: Sigit Indarto, S.E., M.Si. (Alumni SDN Sukosari Lulus 1980, Bekerja di Dinas Sosial Kabupaten Sleman)

Kisah bermula dari seorang disabilitas “Budi Santoso” yang berani menulis surat kepada Gubernur DIY tentang keinginannnya untuk bisa bekerja untuk membantu keluarganya. Sosok Budi Santoso merupakan seorang laki-laki disabilitas berumur 23 tahun yang beralamatkan di daerah Mlati. Budi Santoso tinggal bertiga dengan seorang ibu yang yang bernama Ngadiyem dan adik ibunya yang bernama Wagirah. Keluarga ini tergolong keluarga miskin, mereka tinggal dirumah tembok separoh batako dengan 3 kamar yang tidak berpintu. Budi Santoso merupakan anak tunggal. Dengan kondisi yang serba terbatas, tidak menyurutkan semangat seorang Budi Santoso untuk bisa membantu keluarganya, walaupun dengan keterbatasan fisiknya.

Keseharian Budi Santoso mencari rongsok di sekitar wilayah Kecamatan Sleman. Budi Santoso setiap pagi dengan sepedanya dia berjalan menuju pasar beran untuk mengumpulkan rongsok dari kotak sampah yang ada dipasar Sleman. Setelah terkumpul kemudian dibawa pulang untuk segera dipilah mana yang plastik mana yang kertas. Setelah istirahat sebentar kemudian Budi Santoso pergi lagi ke seputaran pasar Cebongan dan Youth Center di Kecamatan Mlati untuk melakukan aktivitas yang sama. Hal ini dilakukan Budi Santoso selama bertahun-tahun. Namun demikian hasil yang diperoleh tidaklah seberapa didapat.

Hingga suatu saat timbul idenya menyurati Gubernur DIY untuk mengadukan kondisi keluarga dan minta diberi pekerjaan. Hal ini dilakukan karena sudah mencoba di beberapa tempat untuk melamar pekerjaan selalu saja mendapatkan penolakan dikarenakan kondisi fisiknya yang disabilitas. Budi Santoso tidak mau ada orang lain berbelas kasihan hanya karena cacat fisiknya, tetapi dia ingin orang lain mau menghargai sosok Budi Santoso karena “hasil” kerjanya. Surat yang ditujukan kepada Gubenur DIY kemudian didisposisi ke Kabupaten Sleman sampai ke Dinas Sosial (Sekretariat SLRT). Oleh petugas dari Sekretariat SLRT Dinas Sosial Kabupaten Sleman kemudian diadakan kunjungan rumah dan melakukan wawancara kepada Budi Santoso dan keluarganya.

Hasil wawancara terungkap bahwa masih banyak orang awam yang hanya merasa kasihan saja terhadap kedisabilitasannya tetapi tidak berusaha untuk memberdayakan, sedangkan disisi lain sosok Budi Santoso tidak mau berpangku tangan menunggu belas kasihan orang lain, yang dia mau adalah uang yang didapat karena hasil keringat dia bekerja.

Setelah di rapatkan di kantor, kebetulan saja kantor  Dinas Sosial masih membutuhkan tenaga tambahan untuk menyapu halaman kantor. Lowongan ini kemudian ditawarkan kepada Budi Santoso. Gayung bersambut, Budi Santoso sangat gembira menerima tawaran ini. Hari-hari selanjutnya adalah setiap hari bangun jam 04.00 kemudian menuju ke komplek Pemerintah Kabupaten Sleman untuk mengumpulkan rongsok dulu baru ke Dinas Sosial untuk menjalankan tugas membantu menyapu halaman sampai dengan jam 07.00.

Selanjutnya melakukan aktifitas mencari rongsok seperti biasanya. Dengan pekerjaan barunya ini, Budi Santoso merasakan adanya penghargaan terhadap dirinya karena tenaganya bukan karena kedisabiliitasannya. Dengan layanan SLRT senyum mengembang di bibir Budi Santoso menuju gairah aktivitas barunya.

Pembelajaran untuk kita semua adalah, adanya kekurangan pada diri kita bukan untuk disesali tetapi TETAP DISYUKURI dengan berkarya dan terus berkarya.

 

Advertisements
This entry was posted in Alumni. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s