Fullday School untuk SD, Perlukah?

Oleh: Muhammad Irfan (Dosen Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Mahasiswa S3 Prodi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang)

Usulan dari Prof. Muhajir Effendy (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia) yang akan menerapkan sistem fullday school di setiap sekolah menuai polemik di masyarakat. Hal ini wajar terjadi karena siswa akan lebih lama ‘tinggal’ di sekolah. Dikhawatirkan siswa akan mengalami rasa bosan dan penat serta stress karena seharian berada di sekolah. Namun, kekhawatiran tersebut dibantah oleh Pak Menteri. Menurutnya, sistem fullday justru akan membuat siswa senang dan gembira. Di sekolah, mereka tidak akan mendapatkan pelajaran sekolah hingga sore hari, tetapi diisi kegiatan ekstrakurikuler dan pembentukan karakter. Selain itu, guru-guru akan lebih tertolong dalam hal sertifikasi.

Terkait sistem fullday, khususnya untuk sekolah-sekolah negeri pada umumnya memang sesuatu yang ‘baru’, tetapi tidak untuk sekolah-sekolah swasta. Sekolah-sekolah swasta lebih awal dalam melaksanakan sistem fullday, bahkan dimulai dari PAUD hingga SMA. Khusus SMP dan SMA, biasanya ada dua pilihan yaitu fullday dan boarding. Sekolah-sekolah swasta lebih cermat dalam melihat keadaan di masyarakat. Mereka melihat bahwa orang tuanya bekerja di kantor hingga sore hari. Jika anaknya sekolah sampai pukul 12:00, lalu setelahnya dengan siapa? Akan sangant menyita waktu jika para orang tua harus menjemput anak-anaknya, dan diantarkan ke rumah. Pikiran orang tua pun tidak tenang kalau anak-anaknya sendirian di rumah atau di asuh pembantu. Jika diajak ke kantor, tentu akan mengganggu pekerjaan. Sehingga, pihak swasta kemudian menggunakan sistem fullday untuk mengatasi hal tersebut. Mereka di sekolah dari jam 07:00 hingga jam 15:00.

Apa yang mereka lakukan? Belajar, bermain, beribadah, makan, tidur, dan mereka bisa tertawa sumringah. Para guru rela pulang sore hingga siswa-siswinya dijemput orang tuanya. Dan biasanya, anak-anak dari guru-guru tersebut menyekolahkan di sekolah yang sama atau satu yayasan. Sehingga ia masih bisa membersamai anak-anaknya.

Fullday school atau penitipan anak?
Pengalaman saat saya bekerja sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa tidak sedikit orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah fullday karena kesibukannya. Para orang tua sibuk bekerja dan tak jarang mereka keluar kota bahkan keluar negeri. Akhirnya, pilihan menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah fullday atau boarding menjadi solusi. Ironisnya, beberapa diantara para orang tua ‘ogah-ogahan’ dalam melihat perkembangan anak-anaknya di sekolah. Pada saat terima raport midsemester dan akhir semester, tidak lebih dari separo yang menghadiri. Tak jarang pula, para orang tua hanya memperhatikan sisi akademik, sementara perilaku dan afektif terabaikan. Tujuan fullday agar para orang tua bisa menjemput anak-anaknya saat pulang sekolah pun belum terealisasikan secara signifikan. Banyak pula mereka dijemput oleh sopir atau asisten.  Tentu tidak semua orang tua berperilaku sama. Banyak pula orang tua yang aktif untuk melihat perkembangan dan memantau buah hatinya. Secara periodik, mereka selalu menanyakan perkembangan anaknya, baik dari sisi akademik, akhlak, dan kegiatan yang ia ikuti.

Harapan Pak Menteri terkait sekolah fullday memang bagus. Salah satunya agar hubungan anak-orang tua dapat terjalin dengan harmonis penuh kasih. Namun, pada kenyataannya justru sekolah fullday disalahartikan. Fullday bukanlah tempat penitipan karena orang tua yang sibuk bekerja. Mereka menganggap sekolah merupakan bengkel ‘akhlak’ dan semua tanggung jawab sudah berpindah tangan ke guru-guru.

Kondisi di kota beda dengan di desa. Jika di kota dengan keadaan orang tua yang bekerja kantoran dari pagi hingga sore tentu sangat terbantu dengan adanya sekolah fullday, khususnya SD. Mereka dapat bekerja dengan tenang dan anak-anaknya pun dapat belajar dengan nyaman. Para orang tua tidak khawatir dengan siapa mereka bergaul, apa yang mereka makan, bagaimana ibadahnya, karena sudah ada para guru yang membersamai. Namun, di desa dengan keadaan para orang tua yang mempunyai pekerjaan yang lebih fleksibel tentu tidaklah cocok jika di SD diberlakukan fullday. Mereka bekerja sebagai petani, buruh bangunan, jualan di pasar mempunyai waktu yang fleksibel. Anak yang berangkat jam 07:00 dan pulang jam 12:00, masih bisa diantar dan dijemput oleh orang tua. Di rumah, mereka masih dapat bertemu dengan orang tua dan bermain dengan teman-teman yang lain. Teman-teman di desa pun hampir sama dengan teman-teman di sekolah karena mungkin di suatu desa hanya ada satu atau dua SD dan mayoritas anak-anak bersekolah di sana.

Oleh karena itu, dengan diberlakukannya sekolah fullday, khususnya di SD, membawa angin segar bagi orang tua yang mempunyai kesibukan yang padat. Mereka sangat terbantu dengan adanya sekolah fullday. dan lebih tenang karena anak-anaknya sudah ada yang ‘ngopeni’ dengan baik. Namun, jika di daerah pedesaan yang mayoritas penduduknya homogen, tentu pemberlakuan fullday kurang tepat. Anak-anak akan merasa ‘dikurung’ di sekolah. Mereka tidak bebas bermain di sungai, pematang sawah, atau di lapangan. Intensitas bertemu dengan orang tua menjadi berkurang.

This entry was posted in Pakar. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s